Alhamdulillah, menjadi ibu adalah salah satu anugerah Allah yang luar biasa. Dan setiap kehamilan serta persalinan adalah pengalaman yang tak terlupakan. Kali ini, Ibu ingin mengenang kembali apa yang Ibu dan Ayah hadapi saat Allah menitipkanmu di perut Ibu, Zi.
Menangis bahagia adalah respon Ibu saat pertama kali melihat garis rangkap 2 di test pack. Ayahmu pun langsung memeluk Ibu. Tetapi, kami masih belum berani berharap sebelum periksa ke dokter. Alhamdulillah, dokter mengkonfirmasi kehamilan Ibu. Masih 6 minggu katanya dan sudah terlihat kantung kehamilannya.
Di episode awal kehamilanmu, mual dan muntah tidak begitu mengganggu, tetapi Ibu menjadi begitu sensitif terhadap bau bumbu masakan, terutama laos. Kalau masak sih ndak masalah. Pas makan, hmmm, aromanya bikin nafsu makan hilang. Pernah suatu ketika Ibu memaksakan diri makan. Tidak lama setelah itu, Ibu muntah. Ayah yang khawatir terhadap kesehatanmu dan Ibu akhirnya memarahi Ibu. Ibu yang sebenarnya juga khawatir akan kesehatanmu akhirnya menangis. Pikir Ibu waktu itu, muntah pun bukan kemauan Ibu, tetapi kenapa Ayah malah memarahi Ibu. Hehehe.
Trimester 2 kehamilanmu relatif lancar. Ayah dan Ibu bahkan sempat makan di Warung Super Sambal di Pati. Setelah makan pedas, gerakanmu aduhai, Zi. Mungkin karena merasakan pedas juga ya.
Di trimester 3, Ibu dan Ayah mulai menjalani episode long distance marriage. Ibu mempersiapkan kelahiranmu di Malang, sedangkan Ayah tetap di Pati. Di Malang, Ibu kontrol kehamilan di RS UMM dengan dr. Halida, Sp.OG. Dari hasil USG, dokter menyatakan bahwa berat badanmu kurang, Nak. Ibu tentu saja terkejut karena selama ini periksa di dokter di Pati semuanya normal. Ibu diberikan tugas oleh dr Halida untuk menambah beratmu dalam waktu 1 bulan. Dokternya menyarankan agar Ibu makan es krim dan coklat. Hmm, siapa yang bisa menolak 2 makanan itu? Hehe..
lanjut di part 2 ^^
Komentar
Posting Komentar