Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Asyiknya Membantu Ibu Mencuci Baju

Assalamu'alaikum, hai...  Hari kedua pengamatan gaya belajar anak sebagai tantangan level 4 di Kuliah Bunda Sayang IIP. Hari ini, karena Zizi tidak bisa menghabiskan makanannya dalam waktu 30 menit, sesuai kesepakatan awal, maka Zizi tidak diijinkan main di luar rumah. Hehe, maaf ya, Nduk. Sebagai gantinya, Zizi bisa membantu ibu mencuci baju. Emm, pada dasarnya yang mencuci adalah mesin cuci sih. Ibuk dan Zizi hanya bertindak sebagai operator mesin cuci dan penjemur baju. Berbeda dengan mesin cuci yang selama ini kami punya, di sini kami menggunakan mesin cuci 2 tabung yang masih semi otomatis. Ketika mesin cuci tengah beroperasi mencuci ataupun membilas, tutupnya sengaja saya buka. Ternyata, Zizi asyik sekali mengamati bagaimana air dan pakaiannya bergerak berputar-putar. Sesekali ia berteriak heboh 😂 Zizi : "Ibuk, ini airnya banyak yaa." Ibuk : "Iya. Banyak sekali airnya." Zizi : "Airnya dari sini lalu masuk ke situ ya." (sambi...

Yuk, Kita Bikin Ecobricks

Assalamu'alaikum, hai... Masih tentang cerita di Manokwari dan kali ini sekaligus untuk laporan game level 3 kuliah Bunda Sayang IIP. Di Manokwari, harga air mineral kemasan galon dan kemasan 600 ml sekardus hampir sama. Lantas dengan menimbang bahwa (1) kalau beli yang 600 ml sekardus, kami bisa memanfaatkan kardusnya untuk tempat pakaian, mainan, buku, dll dan (2) kalau beli yang 600 ml sekardus, ndak perlu repot jungkir balikin galon di dispenser ataupun memompa airnya untuk kemudian diminum; akhirnya kami memutuskan untuk membeli yang kemasan 600 ml. Konsekuensinya, banyakk sekali botol mineral di rumah kami. Kadang sudah saya kumpulkan rapi di satu tempat, lalu adek Thariq dengan tanpa bersalah mengambilnya lalu membawanya sambil berjalan ke sana dan kemari, hahahhaa.. Akibatnya, sejauh mata memandang, botol kemasan memenuhi rumah kami yang masih minim perabotan ini. Hehe. Konsekuensi lain, sampah yang dihasilkan rumah kami pun bertambah. Padahal kepinginnya #menujurumahn...

Cerita tentang Pasar Borobudur dan Kehabisan LPG

Assalamu'alaikum, haii.. Masih di edisi Manokwari. Kemarin, saya diantar suami pergi ke salah satu pasar tradisional di sini. Namanya Pasar Borobudur. Nah lo, namanya kok pake nama salah satu candi di Jawa yaa. Sayangnya, saya belum dapat info lebih lanjut tentang latar belakang penamaannya. Ya udah lah, nanti kalau sudah dapat infonya, insyaaAllah akan diperbaharui blog nya. Hehe.  Back to topic , jadi Pasar Borobudur ini terletak di pinggir jalan raya. Penjualnya ya masyarakat asli Papua. Yang dijual ada sayur mayur, empon-empon, ikan segar, dan lain-lain. Nah yang unik, di sini nggak ada timbangan lo, temans. Barang dagangannya ditaro di semacam mangkok-mangkok plastik kecil. Pun, ndak ada tawar menawar di sini. Kalo meminjam istilah pak suami, "Gelem tukuen, ga gelem tinggalen." Hehe. Lalu, keunikan yang ketiga, harga barang dagangannya kelipatan lima ribu rupiah. Jadi ya lima ribu rupiah, sepuluh ribu rupiah, dua puluh ribu rupiah, dst. Dengan sistem ini, be...

Halo, Manokwari 😉

Mumpung suami dan nak kanak sudah tidur pulas, yuk marilah kita nulis kenangan di mari. Agar bisa dibaca suatu hari nanti sambil ketawa ketiwi. Agar bisa diceritakan kembali kepada saudara saudari. Hehehe. Alhamdulillah, sudah sekitar empat hari, saya dan anak-anak berpindah domisili. Kalau suami sih terhitung sejak awal Juli. SKnya tanggal 2 Juli kalau tidak salah. Lalu diberikan waktu seminggu untuk menyelesaikan segala urusan ini dan itu. Kemudian pak suami berangkat hari Minggu tanggal 8 Juli diiringi doa dan derai air mata saya (tapi diempet di dalam hati), wakakak dari sanak famili. Ahh, semoga bisa menulis secara khusus kejadiannya. Hehehe. Eh, jadiii, pindah domisili dimana? Di Indonesia Timur, saudara-saudara. Tepatnya, di Manokwari, Provinsi Papua Barat. Setelah sekian lama menetap di Jawa Tengah, akhirnya pindah juga. Hehe. Saya dan anak-anak baru menyusul pak suami setelah kurang lebih 4 bulan karena menunggu adanya tempat tinggal yang nyaman bagi anak-anak. Alham...

Tut Tuuttt Gujes Gujess

Masih di rumah mertua. Salah satu hal yang saya suka dari rumah mertua ini adalah jaraknya yang relatif dekat dengan Stasiun Sengon. Dahulu stasiun ini berfungsi layaknya stasiun pada umumnya, penumpang kereta dapat naik dan turun melalui stasiun ini. Tetapi, seiring perkembangan jaman, stasiun ini sepi penumpang sehingga sekarang hanya berfungsi untuk persinggahan sementara jika ada kereta yang bersimpangan. Setiap kali berkunjung ke rumah mertua, Zizi selalu diajak ke stasiun ini, entah oleh ayahnya atau oleh mbahkungnya. Bagi anak kecil, melihat kereta api adalah suatu hiburan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan saat saya masih kecil. Hehe Pagi ini, suami tiba-tiba mengajak saya untuk melihat kereta api. Saya pun langsung menyetujuinya. Suami segera browsing  jadwal kereta api, sedangkan saya mempersiapkan anak-anak untuk pergi. Saat berpamitan, mbahkung berkata, "Lihat jalan tol juga ta?" Oh iya, proyek jalan tol yang juga berada di dekat situ sudah jadi...

Origami ala Ayah

Masih di rumah mertua. Sore kemarin, Mas Azka tiba-tiba ingin dibuatkan pesawat dari kertas. Ia menyodorkan secarik kertas kepada mbahkung. Mbahkung lalu nampak sibuk melipat-lipat kertas tersebut. Tak lama kemudian, beliau mendelegasikan tugas tersebut kepada suami. Mungkin bapak lupa. Hehe. Azka segera memberikan kertas kepada omnya. Mengetahui hal itu, Zizi pun melakukan hal yang sama. Kepingin pesawat terbang juga, katanya. Okee, jadi yuk laksanakan proyek keluarga yaa. Ayah bertindak sebagai pimpro merangkap operator. Azka dan Zizi sebagai pelaksana sekaligus sie perlengkapan. Ibu bertindak sebagai sie keamanan. Ayah menerima kertas yang disodorkan kedua bocah. "Oke, gantian yaa. Mas Azka dulu ya Zi," kata ayah. "Aku duluan," kata Zizi. "Ayo, antri Mbak Zizi," saya meminta Zizi berdiri di belakang Mas Azka. "Ndak mau. Aku duluan" "Ayolah, antri biar segera dibuatkan" "Aku dulu" "Ma...

#CeritaZizi : Pijatan Pengantar Tidur

Hari ini, ayah mengantar mbahkung ke Ngerong. Katanya, ada keperluan orang dewasa dan anak-anak kecil tidak boleh ikut. Mas Azka bersekolah. Alhamdulillah Mbak Riefa belum bersekolah sehingga aku bisa puas bermain bersamanya. Ayah pulang siang menjelang sore. Aku senang sekali ketika ayahku pulang. Aku pun meminta dimandikan ayah. Ayah juga mencuci rambutku. Rasanya geli ketika air dari pancuran diarahkan ke kepala dan badanku. Selesai mandi, aku memakai baju lalu bermain dengan Mas Azka dan Mbak Riefa. Selepas Isya', aku mulai mengantuk. Adek Thariq sudah tertidur pulas di kamar sehingga ibu menawarkan untuk memijatku. Tentu saja aku mau, tetapi tidak di kamar melainkan di depan tv. Sembari memijat, ibu menanyakan apa saja kegiatanku hari ini. Tak lama kemudian Mas Azka datang. Ibuku menawarkan untuk memijatnya. Seperti aku, Mas Azka pun dengansenang hati mengiyakan. Ketika ibu sedang memijat mas Azka, aku merasa lapar. Akhirnya aku meminta ayah untuk menyuapiku. Iya,...

Silaturahim ke Sengon Pasuruan

Setelah sekitar 2 bulan tidak bersua, alhamdulillah hari ini Zizi dan Thariq bisa bersilaturahim ke rumah uti mbahkung di Sengon. Kunjungan ini selalu dinantikan Zizi karena di sini dia akan bisa bermain dan bertengkar dengan saudara sepupunya, yaitu Mas Azka dan Mbak Riefa. Sejak awal, saya dan ayahnya sudah menjelaskan bahwa kami akan menginap selama beberapa hari. Bagi kami, briefing ini penting untuk mempersiapkan kondisi Zizi di rumah uti-nya nanti. Sesampai di rumah uti, seperti biasanya, Zizi langsung bermain dengan para sepupunya. Kali ini, Mbak Riefa yang biasanya bermain sendiri ataupun bermain dengan bundanya sudah mau terlibat bermain dengan Mas Azka dan Zizi. Senang sekali melihat mereka aktif berlari, bersepeda, dan meloncat ke sana kemari. Karena asyik bermain, Zizi tidak mau tidur siang. Hmmm, euforia bertemu saudara. Pun, Zizi tidak terlalu mempedulikan saya dan ayahnya. Ia hanya akan menghampiri kami kalau merasa ingin pipis, pup, atau lapar. Hahaha. Prakti...

Duduk di Pundak Ayah itu Seruuu

Alhamdulillah, hari ini demam adek Thariq sudah turun. Tetapi, walau suhu tubuhnya sudah normal, dia masih saja ingin lekat dengan ibu. Mau digendong uti sebentar untuk makan, itupun harus keluar rumah. Mengetahui hal itu, saya meminta suami untuk ke kantor Samsat sendirian. Rasanya kok saya tidak sanggup harus menggendong Thariq sembari menemani Zizi mengeksplorasi kantor. Suami setuju. Akhirnya, kegiatan kami di pagi hari adalah ibu dan adek Thariq di rumah, ayah ke kantor Samsat, sedangkan Zizi ke rumah Ayya. Waktu berjalan dengan cepat, hingga adzan Maghrib pun berkumandang. Ayah bersiap menuju masjid, Zizi pun merengek minta ikut. Setelah bersiap, mereka berangkat. Beberapa saat kemudian, Zizi dan ayah masuk rumah kembali. Zizi berada di pundak ayah. Wajahnya senang sekali. Rupanya, selama perjalanan pulang, ayah memanggul Zizi sambil murojaah Al Bayyinah. Setelah Zizi diturunkan, tak lupa ayah sedikit menjelaskan kandungan surat yang baru saja dibaca. "Al Bayyin...

Adek Thariq Demam

Sebenarnya , hari ini kami berencana ke kantor Samsat untuk cek fisik. Harapannya, dengan diajak ke Samsat akan ada banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh Zizi, misalnya, tentang antri, profesi polisi, suasana di kantor Samsat, dll. Tetapi, adek Thariq demam tinggi sehingga rencana ke kantor Samsat batal. Saya berpikir tentang kegiatan pengganti Zizi agar tetap bereksplorasi. Berhubung dia sudah tidak bersekolah di Rutaba, saya pun usul agar ayah tetap mengawal murojaahnya usai sholat Maghrib. Alhamdulillah ayah mau. Sambil dipangku ayah, Zizi pun murojaah surat An Naba' selepas sholat Maghrib. Barokallahu fiikum, Zizi. 🍀🍁🍀🍁🍀🍁 Tema : Bereksplorasi Bersama Ayah Materi : Murojaah Surat An Naba Kecerdasan yang Dieksplorasi : 1. Kedekatan dengan ayah ( bonding ) 2. Menghafal ayat Al Qur'an #HariKe5 #Tantangan10Hari #KuliahBundaSayang #GameLevel3 #FamilyProject #MyFamilyMyTeam

Minggu Seru di Klinik Gigi

Sampai hari ini, Zizi sudah pergi ke dokter gigi sebanyak tiga kali. Yang pertama dan kedua untuk perawatan giginya, sedangkan kali ini untuk mengantar ayahnya. Sebenarnya, pengalaman Zizi di dokter gigi tidak begitu baik, tetapi alhamdulillah dia tidak pernah menolak untuk diajak ke sana lagi. Dokternya sudah oke, namun karena Zizi memang sedikit peka dan reaktif, dua kali ke dokter gigi dua kali pula dia terisak ketakutan. Kunjungan pertama malah membuat mulutnya terluka, tetapi bu dokter yang sigap memberinya obat. Nampaknya, peristiwa seperti ini sudah sering terjadi. Hehehe. Karena ayahnya Zizi dan saya bersepakat untuk menjadikan kunjungan ke dokter gigi sebagai salah satu kegiatan rutin tahunan, maka ayahnya berniat untuk menunjukkan kepada Zizi bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan ketika kita duduk di kursi khas pasien dokter gigi itu. Kursi yang oleh Zizi disebut sebagai kursi pesawat karena bisa bergerak naik dan turun. Padahal Zizi belum pernah naik pesawat. Imajinasi ...

Dari Jembatan Lalu Makanan

Hari ini kami sekeluarga mengeksplorasi Surabaya. Tepatnya, kami menyeberang ke Pulau Madura melewati jembatan Suramadu. Setelahnya, kami mampir ke wisata religi Ampel untuk membeli Kebab Syawarma. Kebab ini cukup nostalgik untuk saya dan suami karena ketika kami masih menuntut ilmu di Surabaya, kami pernah bersama dengan teman-teman selaboratorium ke sini. Kebab istimewa yang membuat kebab pinggir jalan di kota Malang menjadi semacam "kebab sayur" karena limpahan dagingnya. Hehehe.. Ringkas saja ceritanya yaa. Sekitar sejam yang lalu kami baru sampai rumah. Badan sudah lelah dan meminta istirahat. Lagipula, kalau suami sudah di depan mata, apa iya mau ngliatin gawai saja? Hihihi.. 🍀🍁🍀🍁🍀🍁 Tema : Bereksplorasi Bersama Ayah Materi : Benda Ciptaan Manusia dan Allah Kecerdasan yang dieksplorasi: 1. Kecerdasan spiritual, yaitu bahwa segala yang ada di Bumi ini ciptaan Allah 2. Membangun kedekatan dengan keluarga besar 3. Mengetahui adab di masji...

Alhamdulillah, Ayah Datanggg 😍

Alhamdulillah hari ini perjalanan suami lancar. Berangkat pukul 07.00 WIT, beliau sampai di Juanda pukul 10.39 WIB. Mampir ke rumahnya di Sengon, lalu beliau melanjutkan perjalanan ke rumah Malang. Zizi, yang tidak diberi tahu jika ayahnya pulang, terkejut campur senang melihat kendaraan ayahnya mendekat. Waktu itu, dia sedang bermain dengan teman-temannya di rumah. Dia senang, tetapi seperti malu bertemu dengan ayahnya. Sampai kemudian salah satu temannya menyuruhnya untuk melihat ke arah ayahnya, tetapi Zizi salah paham dan menyangka bahwa temannya tersebut mendorongnya. Jadinyaa, Zizi menangis. Beruntung dapat segera reda setelah dipeluk ayahnya. Tak lama setelah kedatangan ayahnya, adzan Maghrib berkumandang. Zizi bersemangat ingin ikut ayahnya ke masjid. Karena Thariq masih kecil, saya pun menemaninya di rumah. Hanya Zizi dan ayahnya saja yang berangkat. Tak lupa sebelum berangkat, saya kembali mengingatkan Zizi agar tenang ketika jamaah sedang sholat. Sayangnya, Zizi masih b...

Proyek Keluarga Pertamaku

Bulan baru, semangat baru, dan, karena sedang kuliah Bunda Sayang, berarti juga tantangan baru. Alhamdulillah perkuliahan sudah sampai di level 3. Di level 3 ini, tujuan utamanya adalah meningkatkan kecerdasan anak, atau secara umumnya sih seluruh keluarga ya, melalui suatu proyek keluarga ( family project ). Kedengaran menantang kan yaa?! Apalagi di materinya dijabarkan tentang kecerdasan majemuk, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan menghadapi tantangan (adversity intelligence). Tidak seperti game sebelumnya, materi game kali ini tidak saya ceritakan kembali di sini. Kamu penasaran? Yuk ah ikut kuliahnya. Hehehe.. Oke lanjut yaa. Jadi, semenjak mengetahui tentang gerakan #menujuminimsampah, saya mulai menyebarkan budaya baik ini ke suami. Alhamdulillah ketika ada pre-order buku tentang topik ini, saya diijinkan suami untuk ikut. Begitu bukunya sampai, saya skimming bukunya dan bertekad untuk melakukan tips-tips ...