Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Komunikasi Produktif : Aliran Rasa

Sebagai makhluk sosial, berkomunikasi adalah salah satu hal yang biasa kita lakukan. Tetapi, apakah komunikasi kita selama ini telah produktif? Alhamdulillah, saya banyakkkk sekali belajar hal baru tentang komunikasi kepada suami, orang tua, serta anak. Itu nulisnya sampai huruf k-nya lebih dari satu. Hehe. Kaidah-kaidah komunikasi yang disampaikan dalam materi saya praktekkan sedikit demi sedikit dalam kehidupan. Adakalanya berhasil, namun tidak jarang juga hasilnya nihil. Tetapi, bukankah setiap orang senantiasa berproses? 😉 Selain merasakan bahwa komunikasi berjalan dengan lancar, materi pertama ini juga membuat saya menjadi lebih "maklum" terhadap suami. Loh kok bisa? Yaaa karena saya seolah dibuka pikirannya bahwa suami, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, adalah pribadi yang telah terwarnai dengan pengalaman serta pemahaman yang mungkin berbeda dengan kita. Tapi, bukankah pelangi menjadi indah karena tersusun atas beragam warna yang berbeda? &#1...

Cek Fisik yang Bikin Hati Jadi Rumit

Siang tadi, salah seorang kawan lama mengirimkan pemberitahuan tentang adanya pembebasan pajak daerah untuk kendaraan bermotor di wilayah Jawa Timur. Saya kemudian meneruskan info tersebut ke suami karena kendaraan kami masih berBPKB wilayah Jakarta. Lalu, kami mulai berdiskusi tentang rencana pengurusan BPKB tersebut. Suami pun mulai menjelaskan rencananya pada saya. Semua saya tanggapi dengan baik sampai pada tahap cek fisik. Suami berencana meminta tolong kepada orang lain (karena kami tidak berada di Malang pada saat hari perkiraan tes fisik dilakukan) atau alternatifnya, suami yang mengurus ini sendiri, pulang ke Malang sendiri. Saya langsung tidak setuju dengan ide tersebut dan meminta agar beliau membawa Zizi karena saya merasa tidak sanggup ngemong dua balita di lingkungan yang baru. Ternyata, suami juga tidak setuju dengan ide saya mengingat biaya untuk pulang lumayan menguras dompet. Mahal di ongkos, Cynn.. Suami bersikukuh untuk pulang sendiri dengan durasi pendek. Waktu...

Kebakaran di Hutan Hewan

Sore hari adalah jatahnya Zizi bermain di luar rumah. Alhamdulillah kami tinggal (sementara) di perumahan yang lingkungannya kece abis. Jalan di depan rumah yang cukup lebar serta one-gate system yang ada membuat anak-anak bebas bermain di luar tanpa khawatir dengan wira-wirinya kendaraan. Pun sekarang perumahan ini dilengkapi dengan pak satpam yang ramah, supel, tetapi tetap tegas terhadap para tamu, sehingga para orang tua menjadi lebih tenang melepaskan anak bermain di luar. Kali ini, seperti sore-sore sebelumnya, Zizi berangkat dengan bersepeda. Dia menuju rumah Ayya, salah satu genks nya di perumahan ini. Mereka hanya berbeda 2 bulan saja umurnya. Sama-sama imut dan menggemaskan, apalagi jika mereka mulai berdialog dengan bahasa Indonesia yang baku. Hahaha. Karena Zizi asyik bermain di luar, saya pun bermain di rumah dengan Thariq. Lalu, kakak sepupu saya datang. Jadilah kami mengobrol sana sini sambil ngemong Thariq. Saat seru-serunya ngerumpi, tiba-tiba Zizi datang bersama A...

Karena Lapar Mengubah Orang 😅

Semacam tagline salah satu produk makanan ya, tetapi itu juga yang sering terjadi pada Zizi. Sore kemarin, sepulang dari bermain bersama teman-teman, raut wajahnya merengut. Melihat pemandangan tidak sedap itu, cepat-cepat saya mengambilkannya minum. Dia minum dengan segera, lalu mulai merengek. Zizi  : "Aku mau ke masjid." (setengah memaksa) Ibuk : "Iya, tapi ngomongnya yang baik." Zizi  : "He em, ibuk nakal." Lalu, rengekannya pun mulai bertubi-tubi. Mulai dari ke masjid, main lagi, minta kue, minta permen, dll. Saya berprasangka, sepertinya dia lapar. Maka, saya pun menawarinya makan. Ibuk : "Mbak Zizi mau makan sama nugget atau sama telur?" Zizi  : "Ndak mau makan. Mau kue." Ibuk : "Ndak ada kue." Zizi  : "Mau permen." Ibuk : "Ndak ada permen." Zizi pun mulai merajuk. Saya bangkit dari posisi saya, lalu berjalan dengan tenang mengambil piring. Beberapa saat kemudian, saya kembali ke posisi se...

Membeli sambil Berdonasi

Sejak Zizi ikut sekolah tahfidz, keluarga kami memiliki Digital Qur'an Speaker . Speaker ini sebenarnya adalah speaker aktif biasa yang dilengkapi dengan usb berisi murottal Al Qur'an. Speaker ini merupakan fasilitas yang diterima setiap santri, yang dapat digunakan sebagai penunjang pembelajaran mereka di rumah. Saat Zizi ke sekolah ataupun sore hari ketika dia bermain, speaker ini tidak dipakai. Saya pun berandai-andai, jika di usb-nya ada file kajian juga sepertinya lebih oke. Saya bisa mendengarkannya sembari beraktivitas di rumah. Lalu saya teringat pernah membaca iklan tentang produk semacam itu. Browsing sana sini, saya menemukan produk yang saya cari. Alhamdulillah. Langkah selanjutnya, mengajukan proposal pendanaan ke Pak Suami. Hehehe. Saya lihat jam. Hmm, pukul tiga sore. Moga-moga sudah agak longgar kerjaannya. Lalu, saya mulai mengetik pesan WhatsApp. Saya : (sambil mengirimkan link produk) "Ini sepertinya bisa dipakai di speaker-nya Zizi ya?!" ...

Masjid Itu Tempat Orang Sholat, Nak (Bagian ke-2)

Sore kemarin, saya memutuskan untuk ikut sholat Maghrib berjamaah di masjid. Thariq di rumah bersama Utinya. Sebelum berangkat, saya tak lupa memberi pesan ke Zizi. Saya : "Di masjid itu sho.." Zizi   : "..lat.." Saya : "Tidak.." Zizi.  : ".. teriak-teriak.." Saya : "Tidak.." Zizi.  : "..jalan-jalan.." Saya : "Oke. Sholat ya, Nduk." Zizi.  : "Iya." Kami sampai di masjid saat iqamah berkumandang. Di dalam masjid ternyata sudah ada temannya. Zizi pun riang menyapa. Lalu, saya mulai sholat berjamaah. Zizi mengambil shaf di sebelah saya. Temannya berada di sebelah Zizi. Selama sholat, temannya ini berjalan-jalan di masjid, bahkan di tempat sujud jamaah lain. 😅 Dia juga mengajak ngobrol Zizi dengan suara keras. Zizi alhamdulilah tetap mau tenang di tempatnya, seperti ada lem yang melekat di antara kaki dan tempatnya berdiri, wakakakakk. Ketika bercakap-cakap dengan temannya, dia sedikit ber...

Masjid itu tempat orang sholat, Nak

Kemarin sore, selepas bermain bersama teman-temannya, Zizi mulai menunjukkan "gejala" tantrum. "Mbah, nanti ke masjid ya.", ajak Zizi kepada Mbahnya. "Ndak mau, nanti kamu ramai.", tolak Mbahnya. "Heee emmm..", sahut Zizi dengan kesal. "Aku mau kerupuk.", pintanya, melihat Uti makan kerupuk. "Ambil sendiri.", ujar saya, menyuruhnya. "Ndak mau, ambilkan.", balas Zizi, sambil kemudian menangis. Dalam tangisannya, ia mengulang apa yang diinginkannya, yaitu pergi ke masjid dan makan kerupuk. Saya mengingatkannya agar tenang, tetapi dia tetap menangis. Lalu, saya pun menggendongnya ke kamar. Sesampainya di sana, saya menutup pintu kamar. Saya meletakkannya di ranjang. Dia masih terus saja menangis. Kali ini ditambah permintaan untuk keluar kamar. Saya pun memberinya waktu sejenak untuk terus menangis. Setelah saya rasa cukup, saya berkata pelan, "Kita baru keluar kalau Mbak Zizi sudah berhenti menangis."...

Mundur Yuk, Mbak Zizi

Salah satu kebiasaan kurang baik Zizi adalah menonton tv dekat-dekat. Sudah beribu suruhan dan bahkan omelan agar dia menjauhi tv ketika menonton, tetapi kebiasaannya ini masih sering ia lakukan. Kemarin sore, selepas bangun tidur siang, Zizi melakukan lagi kebiasaannya. Saya pun mencoba mengingatkannya, "Zi, mundur!". Tidak terjadi reaksi. Zizi masih tak bergeming di tempatnya. Hezzzzz, saya mulai sedikit kesal. Tapi kemudian teringat salah satu kaidah komunikasi produktif, yaitu mengganti perintah dengan pilihan. Oke, mari kita ubah. Sambil mengubah intonasi, saya berseru lagi, "Mbak Zizi, mau mundur atau tv-nya dimatikan?" "Ndak mau dimatikan.", jawabnya sambil tetap bergeming di tempatnya. "Oke, berarti mundur yo.", kata saya lagi, kali ini sambil setengah menyeretnya agar menjauhi tv. Beberapa saat kemudian... "Mbak Zizi, mundur atau tv-nya dimatikan?", kembali saya memberinya pilihan. "Mundur.", kata Zizi sambil...

Terima Kasih, Undangan 😉

Bagi sebagian orang, hubungan jarak jauh relatif tidak mudah. Tetapi apa mau dikata. Walaupun tidak mudah, nyatanya sejak tahun pertama kehidupan pernikahan hingga menginjak usia kelima, saya sudah menjalani hubungan jarak jauh sebanyak 3 kali. Kali ini, saya beserta anak-anak dan suami terpisahkan sekitar tiga ribu sekian kilometer. Karenanya, selain berbeda tempat, kami juga mengalami perbedaan zona waktu. Tentu hal ini menambah sedap pola komunikasi kami. Terkadang ketika saya masih on, suami sudah waktunya beristirahat, dan sebaliknya. Sejak hari pertama tantangan 10 hari games level 1 ini, saya mencoba menerapkan kaidah choose the right time terhadap suami. Tanpa basa-basi, saya mengajak suami untuk membicarakan tentang kapan kemungkinan suami pulang atau saya dan anak-anak menyusul beliau. Tak lupa, saya pun mengajak beliau janjian untuk melakukannya karena selain menyesuaikan jamnya juga agar kami dapat berpikir masak-masak sebelum memulai membicarakannya. Walaupun sudah...

Sepeda Baru Zizi

Proses toilet training Zizi masih berjalan. Kami (Zizi, ayahnya, dan saya) bersepakat bahwa Zizi akan mendapat hadiah sepeda jika ia mau BAB di toilet sebanyak 10 kali. Alhamdulillah, sekitar 3 hari yang lalu Zizi berhasil menyelesaikan tantangan yang kami berikan kepadanya. Kemarin, saat dia sekolah, saya membeli sepeda untuknya. Pulang sekolah, Zizi senang sekali melihat sepeda barunya. Sepertinya dia sudah ingin segera mencobanya. Tetapi karena hari cukup terik, saya tidak memberinya izin. "Pulang sekolah, istirahat dulu. Sore baru boleh bermain.", kata saya, singkat. "Iya.", balasnya. Sore harinya, dia bangun dengan penuh semangat. Tanpa drama. Tetapi rupanya, ban sepedanya bocor. Sudah berkali-kali Mbahkung memompa, tetapi masih belum juga terisi. Oia, sepedanya Zizi ini memang sepeda bekas. Istilah kekiniannya, sepeda preloved, oleh pemiliknya hanya dipakai sekali saat acara 17 Agustus kemarin. Bannya masih mulus bersih seperti baru keluar dari toko. Kondi...

Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga

Siang kemarin, sepulang dari sekolah, Zizi asyik menunjukkan origami burung pada saya. "Ibuk, lihat!", serunya riang. "Wah, bagus sekali. Apa ini?", tak kalah antusias saya meresponnya, mencoba mengganti bahasa interogasi yang biasa saya lakukan . "Ini burung. Yang ini anaknya, yang ini ibuknya.", jelasnya sambil bergantian menunjukkan origami yang ukurannya lebih kecil dan lebih besar. "Hooo begitu. Dibuatkan ustadzah? Atau Mbak Zizi sendiri yang membuat?", saya bertanya lagi. "Dibuatkan ustadzah.", jawabnya. "Sudah bilang terima kasih ke ustadzah?", saya bertanya lagi. "Sudah.", jawabnya. "Sipp. Bagus. Yuk kita pulang", ajak saya. Saya lupa bahwa pujian seharusnya dinyatakan dengan jelas. Jadi ndak cukup dengan menyatakan "bagus" saja, tetapi perlu diperjelas bagusnya dimana agar anak paham bahwa kita mengapresiasi perbuatannya tersebut. Oke, semoga lain kali saya ingat. Sesampainya d...

Rutinitas Pagi Hari

Berdasarkan pengamatan berbulan-bulan, mood atau suasana hati Zizi di pagi hari akan mempengaruhi suasana hatinya seharian itu. Karenanya, saya berupaya membangun kondisi yang nyaman agar harinya menyenangkan. Tantangan pertama adalah membangunkannya dengan cara yang asyik. Saya cium pipinya, "Assalamu'alaikum, Mbak Zizi. Nduk, ayo bangun. Digendong ibuk ke ruang tv yaa", bisik saya dengan lembut di telinganya. Yang dibisiki masih terpejam, tetapi senyum tersungging di wajahnya sambil kedua tangannya direntangkan sebagai isyarat berkenan untuk digendong. Yess, mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah berhasil dilakukan dan menghasilkan respon positif. 💡 Perlahan, saya gendong dia menuju ruang tv. Saya baringkan kembali tubuhnya di kasur yang ada di sana. "Ayo, Nduk, bangun. Hari ini Mbak Zizi sekolah. Sudah ditunggu sama Mas Bara, Mas Muhammad, Azka, dan Arsi, lo", kembali saya membangunkannya dengan intonasi lembut sambil meny...

Kuliah Bunda Sayang : Komunikasi Produktif

Sebagai makhluk sosial, salah satu hal yang sering kita lakukan adalah berkomunikasi, baik secara verbal maupun tulisan. Secara fitrah bahkan seorang wanita mampu memproduksi dua puluh ribu kata per harinya. Emezing yaaa. Jadi, sebenarnya bukan kemauan wanita untuk menjadi ibu-ibu cerewet. La gimanaa secara fitrah memang demikian. 😊 Nah, dari sekian ribu kata yang diproduksi, sudahkah lawan bicara kita memahami maksud kita? Sudahkah apa yang ada dalam benak kita tersampaikan dengan benar? Sudahkah komunikasi kita berjalan dengan produktif? 😅 Alhamdulillah materi perdana Kelas Bunda Sayang membahas tentang ini. Karena perubahan itu dimulai dari hal terkecil, maka pembahasan tentang teknik komunikasi ini diuraikan pada dua subjek yang sering dihadapi para ibu, yaitu pasangan dan anak. Kenapa sih harus dibedakan? Karena karakteristik keduanya berbeda. Pasangan kita telah dididik oleh kedua orang tuanya dengan nilai-nilai tertentu. Sepanjang hidupnya, dia juga t...