Langsung ke konten utama

Zizi, Ini Cerita Saat Kamu di Perut Ibu (part 2)

Melanjutkan cerita di part 1...

Entah karena kurang banyak porsinya atau apa, es krim dan coklat belum berhasil meningkatkan berat badanmu, Zi. Ibu pun curhat ke grup moms. Salah satu dari mereka menyarankan agar Ibu memperbanyak konsumsi protein, salah satunya telur ayam kampung rebus. Demi kenaikan berat badanmu, 3 butir telur ayam kampung pun Ibu konsumsi setiap hari. Bosen? Jelas. Tapi apapun Ibu lakukan demi kesehatanmu, Nak.

Hari berganti. Tiba-tiba kaki Ibu memerah. Dimulai dari telapak kaki lalu perlahan menjalar ke tungkai. Saat kontrol ke dokter, Ibu menunjukkan kondisi tersebut. Dokter sedikit panik curiga bahwa itu DVT (deep vein thrombosis), pembekuan darah pada pembuluh vena. Dokter pun meminta Ibu melakukan 3 jenis tes dan merujuk Ibu ke dokter spesialis penyakit dalam.

Sepulang dari kontrol, Ibu googling tentang DVT. Salah satu kondisi yang bisa terjadi dari DVT adalah gumpalan darah terbawa aliran darah ke tempat lain dan menyumbat pembuluh darah di tempat lain itu, misal di otak, di rahim, dan lainnya. Tarik nafass.. Bismillah laa hawlaa wa laaquwatta illa bila..

Keesokan paginya, diantar oleh Mbah To, Ibu pergi ke Lab Sima di dekat MOG. Rupanya salah satu tes yang mahallll harus dilakukan dengan perjanjian terlebih dahulu. Ibu segera memberitahu dr Halida dan beliau menyarankan agar Ibu tetap menjalani 2 tes lainnya. Pengambilan darah selesai dan Ibu pun pulang naik angkot. Hehe..

Keesokan harinya, hasil tes sudah keluar dan hasilnya normal. Ibu kemudian pergi ke dokter spesialis penyakit dalam dengan membawa hasil tersebut. Ibu diantar Mbahkung lalu Ayah yang barusan datang dari Pati menyusul Ibu ke RS. Alhamdulillah setelah melihat hasil tes dan memeriksa Ibu, dokter menyatakan normal. Ketika ditanya sebab memerahnya kaki Ibu, dokternya curiga bahwa itu reaksi alergi, tetapi ndak tahu juga alergi apa karena Ibu tidak punya riwayat alergi. Yaaa sudahlah, yang penting bukan DVT, pikir Ayah dan Ibu waktu itu.

Hari berganti, tibalah di hari perkiraan lahirmu. Tanda-tanda kelahiran belum Ibu rasakan. Saat kontrol, dokter menyatakan semua masih normal dan Ibu disuruh bersabar sampai ada tanda kelahiran. Jalan pagi pun semakin diintensifkan. Tidak lupa, gerakanmu juga hal yang penting untuk diperhatikan.

Akhirnya, hari Minggu pagi tgl 15 Mei 2017, Ibu merasakan ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir Ibu. Ketika Ibu memeriksa, ternyata keluar lendir kental. Ibu segera lapor ke Uti. Uti panik dan meminta Ibu ke RS. Waktu itu sih Ibu masih belum panik karena lendirnya masih bening, tidak bercampur darah. Tetapi karena Uti memaksa, berangkat juga kami ke RS UMM.

Sesampai di RS UMM, kami menuju UGD. Dari UGD, Ibu dibawa ke kamar bersalin. Seorang bidan memeriksa dalam dan ternyata masih bukaan 1. Setelah dilakukan rekam jantung, Ibu diperbolehkan pulang. Ibu sempat buang air kecil di kamar bersalin itu. Lagi-lagi keluar lendir. Tapi kali ini bercampur darah. Dag dig dug,, hati ini sudah mulai berdebar. Ibu akan segera berjumpa denganmu, Nak, begitu pikir Ibu waktu itu.

Laluuuu, apa lagi yang terjadi? Bersambung ke tulisan berikutnya yaaa :)

Komentar