Langsung ke konten utama

Outbreaks Respons Immunization (ORI) Difteri

Sedang terjadi KLB Difteri di Indonesia. Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur termasuk yang agak banyak penderitanya.

Sekitar sebulan yang lalu, ada suspect Difteri di Kota Batu. Kota Batu ini berbatasan langsung dengan kecamatan tempat saya tinggal. Saat itu, saya mulai mempersiapkan diri untuk memvaksin Zizi dan saya sendiri serta ortu sebagai langkah preventif. Alhamdulillah, rupanya pihak kelurahan mengumumkan bahwa mereka akan menggelar ORI Difteri untuk anak berusia 1-19 tahun. ORI Difteri ini dilakukan sebagai respon terhadap adanya wabah difteri yang melanda. Tanpa pikir panjang, saya segera mendaftarkan Zizi.

Hari pelaksanaan ORI Difteri ini pun tiba. Hujan pagi hari mendatangkan hikmah. Bu Iwan, tetangga di depan rumah, melalui WAG Ibu-Ibu, mengajak siapapun untuk berangkat bersama beliau. Selain karena kondisi hujan, berangkat bareng ini diharapkan dapat mengurangi sedikit ketegangan pada nak kanak yang akan disuntik. Hehe. Akhirnya, sekitar pukul 9 pagi, Zizi dan Uti berangkat bersama Bu Iwan dan Rafa serta mbak pengasuhnya, Bu Alfie dan Ayya, Mbak Aulia beserta Shaka dan Satriya, serta Mbak Intan dan Zaidan. Saya terpaksa tidak ikut karena dikhawatirkan ndak bisa megang Zizi karena rempong dengan Thariq. Hehehe

Sekitar pukul 10.30 sayup-sayup saya dengar suara pintu mobil ditutup. Saya langsung menggendong Thariq untuk menyambut Zizi. Dan seperti dugaan, yang disambut menangis meraung-raung. Tetapi ternyata menangisnya karena minta mainan bola. Glodakkk 😅 Alhamdulillah di rumah ada bola milik Abid yang tersimpan di gudang. Begitu bola diberikan, suasana pun aman terkendali. Hehe

Karena belum masuk jam tidur siangnya, saya, sembari menggendong Thariq, menemani Zizi bermain. Alhamdulillah rewelnya tidak berlanjut. Tetapi karena bekas suntikannya masih terasa sakit, tingkah polahnya pun tidak seluwes biasanya. Lalu dia mulai berceloteh

Zizi : Ibuk, Ayya tadi disuntik. Bahkan aku juga disuntik.
Ibu : Terus?? *sambil ngempet ngguyu akibat penggunaan kata "bahkan" 😂😂😂
Zizi : Sakit. Aku nggak mau disuntik lagi.
Ibu : Ya memang sakit kalau disuntik. Karena jarumnya tajam. Tadi Zizi nangis?
Zizi : Iya.
Ibu : Nggak apa-apa, karena memang sakit. Tapi disuntik itu supaya nggak terkena penyakit. Atau kalaupun sakit, nggak nemen2 sakitnya. *ibu pun bicara panjang lebar, walo belum tentu Zizi bakal ngerti sepenuhnya atau enggak, tapi siapa tahu ya kan? Hehe

Saya dan suami bersepakat untuk meminimalisir bohong terhadap anak. Ketika mereka akan divaksin, terutama setelah umur 6 bulan yaa 😊, kami akan menyampaikan apa yang akan mereka alami, termasuk rasa sakit itu sendiri. Mau nangis pun juga gapapa sebagai upaya penyaluran emosi mereka. Ketika Uti-nya bilang bahwa suntik itu nggak sakit, saya akan ralat dengan "Sakit, Uti, karena jarumnya tajam. Tetapi sakitnya cuma sebentar."

Dengar-dengar, ORI Difteri ini, seperti juga imunisasi DPT untuk bayi, akan berlangsung selama 3 kali. Baiklahhh, mari persiapkan mental Zizi dan nyetok sabar yang banyakk demi hari esok yang lebih baik lagi. *halahh 😛

Semoga KLB Difteri ini segera usai yaa. Aamiin..

Update :
Alhamdulillah Zizi bisa bobok siang dengan nyenyak.

Tapi bangun tidur dia rewel, mungkin mulai terasa sakit. Akhirnya, saya memutuskan untuk memberikan parasetamol. Sebelum minum obat, saya menyuapi Zizi. Awalnya dia ndak mau makan karena sakit katanya. Lah, yang disuntik tangan kenapa jadi mulut ndak bisa makan. Hehehe.

Makan hanya sedikit, lalu saya berikan parasetamol 150mg (BB Zizi 13,5kg). Pasca minum, masih rewel. Akhirnya terpaksa dikeluarkan senjata pamungkas : es krim 😂 Obat rewelnya ternyata seharga seribu rupiah saja (es krim glico wings rasa susu dan stroberi) hahaha

Setelah itu, sudah mulai bermain. Lucunya, tangannya yang disuntik (tangan kiri) kaku ndak digerakkan, semacam orang yang digips 😅
Belakangan dari WAG Ibu-Ibu saya tahu bahwa lengan teman-teman Zizi yang disuntik bareng tadi bahkan sampai bengkak sehingga harus dikompres dingin. Hoalah, Nak Kanak. Semoga Allah segera memulihkan luka mu yaa..

Oh iya, untuk makan malam dan demi selera makannya kembali, senjata lain juga dikeluarkan : mie. Mie plus sawi plus ayam goreng. Alhamdulillah porsi makannya lumayan banyak. Yeayy. Sepertinya bisa dipertimbangkan untuk beli mie tanpa msg dan pengawet ketika di Pati nih, untuk persiapan. Hehe *colek Ayah 😉

Setelah makan, kami sempat bermain lempar bola sebelum akhirnya Thariq nangis minta nenen. Tapi tetap dengan kondisi tangan kirinya yang tertekuk. Hehehe

Komentar