Langsung ke konten utama

Zizi dan Bahasa Jawa

Sebelum memiliki anak, saya berniat untuk menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan anak-anak saya kelak. Bukannya anti Bahasa Jawa, tetapi dahulu saya pernah membaca sebuah artikel bahwa penggunaan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi akan membiasakan otak kita untuk berfikir secara sistematis. Sayangnya, saya lupa judul serta penulis artikel tersebut.

Lalu, Zizi pun lahir. Sejak kecil, saya selalu berkomunikasi dengannya dengan Bahasa Indonesia. Pun demikian dengan ayahnya. Tetapi, saya dan ayahnya masih sering menggunakan Bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari. Tak jarang, saya menjadi translator bila secara tidak sengaja Zizi mendengar kami berbicara kemudian menanyakan maksudnya.

Tahun berganti, seingat saya Zizi mulai banyak berbicara di usianya yang ke delapan belas bulan. Apakah termasuk terlambat bicara? Beberapa artikel menyatakan demikian. Wallahu a'lam. Yang jelas di usianya yang ketiga, Zizi seperti mengalami ledakan kata. Ceriwis kalau orang bilang. Hehe. Apalagi Zizi memiliki nada khas dalam berbicara biasa, bertanya, maupun menyeru. Tayangan televisi yang ditontonnya pun menjadikan Zizi berbicara dengan bahasa baku.

Ibuk : "Zi, ayo bobok."
Zizi : "Apa, Buk? Bobok? Baiklah." *sambil menunduk sedih

Zizi : "Ibu, apakah aku boleh bermain ke luar"

Zizi : "Ibu, aku benar-benar minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Zizi : "Thariq, jangan kemana-mana ya, apapun yang terjadi"

Buahahahahaha, saya ndak bisa ndak ketawa setiap kali mendengar celotehnya.

Nah, sejak 7 bulan yang lalu, saya dan Zizi tinggal di rumah ibu saya. Di sini, paparan Zizi terhadap Bahasa Jawa semakin banyak karena mbah uti dan mbah kakungnya berkomunikasi dengan Bahasa Jawa. Begitupun Mbah To sekeluarga, adek ibu saya, yang sering datang berkunjung ke sini. Dan terkadang, supaya Zizi tidak tahu, kami membicarakan segala tingkah laku Zizi (ngrasani, hehe) dengan bahasa krama halus.

Suatu saat, mbah kakungnya menanyakan ke saya apakah ayahnya Zizi pulang kemari atau tidak.
Mbah kakung : "Ya, ayahe mulih?"
Saya belum sempat menjawab, Zizi menjawab dengan yakin, "Enggak" yang memang adalah jawaban yang benar karena ayahnya ndak pulang.
Sontak kami pun heran dan bertanya-tanya, jawabannya ini karena memang dia tau atau bagaimana ya.
Lalu saya pun bertanya padanya, "Memangnya mulih itu apa sih Zi". "Mulih itu ya pulang, Buk", jawabnya. Wahh, saya terkejut campur senang. Berikutnya saya menanyakan beberapa makna kosakata Bahasa Jawa dalam Bahasa Indonesia yang dijawabnya dengan benar. Beberapa kata yang sempat saya tanyakan adalah ngombe, maem, adus, mlaku, tuku, dolan.

Yeayy, good job, Nduk. Alhamdulillah, satu momen AHA lagi untukmu. Momen ini sekaligus menjadi pengingat agar saya dan ayahnya senantiasa menjaga tutur kata karena ada pendengar cilik yang merekam apapun yang didengarnya.

Komentar