Wedeww, bulan April udah mau habis aja, tapi blog nya masih belum ada isinya. Hehehe. Harap maklum ya, kami habis pindahan. Yakk, setelah menikmati kesejukan Malang selama kurang lebih 8 bulan, akhirnya kami kembali ke Pati. Suhu udara di Pati cenderung lebih panas daripada di Malang. Tetapi tidak apa-apa, yang penting anak-anak bisa setiap hari bertemu dengan ayah mereka. Hehe.. :)
Setiap kali "pulang" ke Pati setelah "mengungsi" di Malang, biasanya kami menempati rumah kontrakan baru. Kali ini pun begitu. Rumah kontrakan lama sebenarnya masih belum habis masa kontraknya. Tetapi, tikus-tikus di sana yang membuat kami pindah ke rumah baru. Kondisi rumah yang tidak rapat memungkinkan tikus untuk dapat keluar masuk sesukanya. Selain kotor, mereka juga merusak barang-barang. Saya tidak tahu seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan, tetapi menurut suami, beberapa tutup tupperware menjadi korban. Hiksss emannyaaaa 😣😣😣. Iya, suami tegas melarang saya masuk ke rumah lama. Parahhh banget kotornya katanya. Yaweslah, saya manut saja daripada pulang dari sana malah membawa kuman. Hehe
Oia, rumah kontrakan kami yang baru ini beralamat di Perumahan Wijaya Kusuma, perumahan terbesar di Pati. Tetangga saya mayoritas seusia ibuk, jadi yaaa Zizi dan Thariq berasa punya banyak uti dan mbahkung di sini. Kalau kata suami, lingkungannya enak, semacam perumahan rasa kampung. Tetangga masih guyub rukun. Saat awal kepindahan, tiba-tiba pintu rumah diketuk dan sebungkus kresek hitam berpindah tangan dari Bu Ugik ke saya. Isinya? Tempe yang belum matang dan beberapa plastik makanan ringan. Senangnyaaaa 😀😍
Seperti di kebanyakan RT lain, ada perkumpulan ibu-ibu setiap bulan. Di sini istilahnya dawis. Saya ndak tahu artinya, baru dengar di sini juga. Di dawis ini ngapain? Ternyata semacam arisan, ada kocokan arisan, pembayaran iuran sampah, juga informasi-informasi untuk warga. Nah, di pertemuan dawis bulan ini, saya disuruh datang untuk berkenalan. Ndak taunya setelah acara selesai, ibu-ibu ke rumah (iyaaa kondisi rumahnya masi beruantakannn) sambil membawa bingkisan berupa minyak goreng, gula, teh, dan wafer. Huaaaaa baik bangettt. Di perumahan-perumahan sebelumnya saya tidak pernah diperlakukan seperti ini. Maka langsung deh saya bilang ke suami, "Mas, balik mudik ntar kita wajibb bawa oleh-oleh yaa." Hehe
Perhatian lainnya juga ditunjukkan dengan betapa paniknya mereka menyuruh saya memakai payung saat saya pergi membeli makanan bersama Zizi dan Thariq. "Haduhh, panas ini. Kasian bayinya. Pakai topi atau payung, Mbak." 😅 Pernah juga mereka membatu menjemurkan pakaian ketika melihat saya rempong menjemur sambil menggendong Thariq. Iyess, Thariq masi posesif haha 😅 Pun ketika gerimis, mereka ndak segan mengingatkan dan bahkan membantu saya mengangkat jemuran. Alhamdulillahh, kali ini benar-benar merasakan bagaimana rasanya punya tetangga. Hehe.
Di sini, Zizi juga mendapat teman baru. Cowok, umurnya kayaknya selisih 6 bulan lebih tua-an Zizi, Azka namanya. Azka ini ditaro di rumah mbahnya ketika kedua orang tuanya bekerja. Nah, rumah kontrakan kami letaknya di seberang rumahnya mbahnya Azka. Awal-awal Azka masih malu-malu. Perlahan tapi pasti, mereka sudah main bersama. Bahkan hari ini sudah bertengkar dan berakhir dengan tangisan Zizi karena tangannya digigit Azka. 😂😅 Onooo ae tingkah polahe arek cilik iki.
Hmmm.. Apalagi yaa yang bisa diceritakan? Oia, di Pati ada Sentra Tahfidz Balita. Sudah berniat mendaftarkan Zizi ke situ eee ternyata belum jodohnya. Saat kami ke sana, ternyata kegiatan sudah berjalan selama dua pekan. Kemungkinan akan dibuka penerimaan santri baru 5 atau 6 bulan lagi. Semoga nanti berjodoh dengan Zizi.
Begitu dulu deh update singkatnya. Tenang, masih buanyaaaaakk keseruan yang akan segera didokumentasikan. Sekarang mumpung nak kanak bobok, yuk cusss sholat dan masak dulu. 😉
Komentar
Posting Komentar