Sebagai makhluk sosial, salah satu hal yang sering kita lakukan adalah berkomunikasi, baik secara verbal maupun tulisan. Secara fitrah bahkan seorang wanita mampu memproduksi dua puluh ribu kata per harinya. Emezing yaaa. Jadi, sebenarnya bukan kemauan wanita untuk menjadi ibu-ibu cerewet. La gimanaa secara fitrah memang demikian. 😊
Nah, dari sekian ribu kata yang diproduksi, sudahkah lawan bicara kita memahami maksud kita? Sudahkah apa yang ada dalam benak kita tersampaikan dengan benar? Sudahkah komunikasi kita berjalan dengan produktif? 😅
Alhamdulillah materi perdana Kelas Bunda Sayang membahas tentang ini. Karena perubahan itu dimulai dari hal terkecil, maka pembahasan tentang teknik komunikasi ini diuraikan pada dua subjek yang sering dihadapi para ibu, yaitu pasangan dan anak. Kenapa sih harus dibedakan? Karena karakteristik keduanya berbeda.
Pasangan kita telah dididik oleh kedua orang tuanya dengan nilai-nilai tertentu. Sepanjang hidupnya, dia juga telah membaca beberapa buku dan artikel atau terlibat diskusi seru dengan teman-temannya. Hal-hal ini lah yang mungkin membuatnya memiliki suatu cara pandang atau konsep tertentu terhadap suatu hal. Ini bahasa kerennya adalah Frame of Refference (FoR). Dalam kehidupannya, pasangan kita juga tentunya telah mengalami peristiwa-peristiwa yang turut membentuk persepsinya terhadap sesuatu. Ini kita sebut sebagai Frame of Experience (FoE). Dua frame ini tentu saja mempengaruhi seseorang dalam bersikap sehingga diperlukan teknik khusus agar komunikasi kita dengan teman hidup kita ini berjalan dengan baik, efektif, efisien, kondusif, dan produktif, you name it. Hehe. Saya kutip dari materi yang diberikan, kaidah untuk berkomunikasi dengan pasangan kita adalah sebagai berikut
1. Kaidah 2C : Clear and Clarify (Jelas dan Klarifikasi)
2. Choose the right time
3. Kaidah 7-38-55
4. Intensity of the eye contact
5. Kaidah I'm responsible for my communication result
Berikutnya, teknik komunikasi dengan anak. Seperti kita tahu, otak anak masih dalam tahap berkembang. Rentang konsentrasinya pun berbeda dengan orang dewasa. Dengan beragam gaya mereka yang khas, kaidah dalam berkomunikasi dengan anak adalah sebagai berikut
1. Keep information short and simple (KISS)
2. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
3. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
4. Fokus ke depan, bukan masa lalu
5. Ganti kata tidak bisa menjadi bisa
6. Fokus ke solusi, bukan masalah
7. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
8. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
9. Gantilah kalimat interogasi menjadi pernyataan observasi
10. Ganti kalimat yang menolak atau mengalihkan perasaan dengan kalimat berempati
11. Ganti perintah dengan pilihan
Oia, kaidah dasar terpenting dalam berkomunikasi adalah pemilihan kosa kata (diksi). Pernah dengar Law of Attraction? Bahwa apa yang kita pikirkan sesungguhnya akan terjadi pada kehidupan kita? Pun kita juga sering mendengar hadits qudsi, "Aku sesuai persangkaan hambaKu". Jadi, yuk ganti pilihan kata kita dengan kata yang positif agar energi yang dihasilkan juga positif. Misalnya, ganti kata "masalah" menjadi "tantangan", kata "sulit" menjadi "menarik", kata "tugas" menjadi "game", dan seterusnya.
Setelah tau teorinya, ndak afdol kalau kemudian tidak dipraktekkan, bukan? Yuk yuk sama-sama mempraktekkan kaidah komunikasi produktif ini 🙂
#materi
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Komentar
Posting Komentar