Kemarin sore, selepas bermain bersama teman-temannya, Zizi mulai menunjukkan "gejala" tantrum.
"Mbah, nanti ke masjid ya.", ajak Zizi kepada Mbahnya.
"Ndak mau, nanti kamu ramai.", tolak Mbahnya.
"Heee emmm..", sahut Zizi dengan kesal.
"Aku mau kerupuk.", pintanya, melihat Uti makan kerupuk.
"Ambil sendiri.", ujar saya, menyuruhnya.
"Ndak mau, ambilkan.", balas Zizi, sambil kemudian menangis.
Dalam tangisannya, ia mengulang apa yang diinginkannya, yaitu pergi ke masjid dan makan kerupuk. Saya mengingatkannya agar tenang, tetapi dia tetap menangis. Lalu, saya pun menggendongnya ke kamar. Sesampainya di sana, saya menutup pintu kamar. Saya meletakkannya di ranjang. Dia masih terus saja menangis. Kali ini ditambah permintaan untuk keluar kamar. Saya pun memberinya waktu sejenak untuk terus menangis.
Setelah saya rasa cukup, saya berkata pelan, "Kita baru keluar kalau Mbak Zizi sudah berhenti menangis." dengan nada datar dan tenang. Alhamdulillah berhasil, tangisnya mulai reda.
Masih dengan nada tenang, saya melanjutkan, "Ibuk dan Uti lebih senang kalau Mbak Zizi tidak teriak-teriak."
"Mbak Zizi mau ke masjid?", tanya saya.
"Iya.", jawabnya sambil sedikit tersenyum.
"Masjid adalah tempat sholat. Jadi, ketika orang-orang sholat, Mbak Zizi juga ikut sholat. Tidak lari, tidak ramai. Mengerti?", saya menjelaskan.
"Iya.", jawabnya.
Lalu, kami keluar kamar. Saya membantunya memakai mukena. Sembari memakai, saya mengulang lagi apa yang perlu dilakukan Zizi di masjid. "Mbak Zizi, masjid tempat sholat. Tidak lari-lari. Tidak ramai-ramai." kata saya, berusaha menjelaskan dengan singkat dan sederhana.
Sepulang dari masjid, Mbah melapor bahwa tadi beliau mendengar Zizi berbisik-bisik ketika berbicara dengan temannya.
#hari6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#instututibuprofesiona
Komentar
Posting Komentar