Langsung ke konten utama

Rutinitas Pagi Hari

Berdasarkan pengamatan berbulan-bulan, mood atau suasana hati Zizi di pagi hari akan mempengaruhi suasana hatinya seharian itu. Karenanya, saya berupaya membangun kondisi yang nyaman agar harinya menyenangkan. Tantangan pertama adalah membangunkannya dengan cara yang asyik.

Saya cium pipinya, "Assalamu'alaikum, Mbak Zizi. Nduk, ayo bangun. Digendong ibuk ke ruang tv yaa", bisik saya dengan lembut di telinganya.

Yang dibisiki masih terpejam, tetapi senyum tersungging di wajahnya sambil kedua tangannya direntangkan sebagai isyarat berkenan untuk digendong. Yess, mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah berhasil dilakukan dan menghasilkan respon positif. 💡

Perlahan, saya gendong dia menuju ruang tv. Saya baringkan kembali tubuhnya di kasur yang ada di sana.

"Ayo, Nduk, bangun. Hari ini Mbak Zizi sekolah. Sudah ditunggu sama Mas Bara, Mas Muhammad, Azka, dan Arsi, lo", kembali saya membangunkannya dengan intonasi lembut sambil menyebut nama teman-temannya. Ahh akhirnya, sepasang mata itu terbuka.

"Ayo siap-siap berangkat ke sekolah. Sarapan dulu yaa", tanya saya padanya.

Zizi menjawab pendek, "Ndak mau sarapan."

"Loh, harus sarapan, Nduk, biar sehat dan kuat.", saya membalas setengah membujuknya.

"Ndak mauuuu!", teriaknya dengan sedikit meninggikan suaranya.

Waduh, bisa gawat kalau begini. Saya diam sebentar, kemudian ahaa..

"Nduk, sarapan itu penting buatmu. Mau sarapan apa wes? Pake naget apa koko crunch?", saya tidak lagi memberinya perintah, tetapi pilihan.

"Hmmm.. Mau koko crunch.", jawabnya pendek.

"Okee. Buahnya mau pear atau stroberi?", lagi-lagi saya memberikannya pilihan.

"Pear aja. Sama susu ya, Buk.", jawabnya sambil mulai duduk di atas kasurnya.

"Okee. Tunggu sebentar yaa, ibuk siapkan.", respon saya sambil mulai meracik permintaannya.

Tak lama, semangkuk sereal dengan susu dan buah tersaji. Iya, Zizi ini memang agak londo. Maem nasi agak susah. Karenanya, saya menyiapkan sereal atau roti atau mie sebagai alternatif lain untuk nasi. Bisa dibilang Zizi ini makan untuk hidup, jadi porsi makannya ya segitu saja, cukup untuk membuat dia kenyang saja.

Sambil menunggunya menyelesaikan sarapan, saya memasak air untuknya mandi. Cuaca yang agak sejuk membuat air di tandon dingin bagai air kulkas sehingga lebih nyaman kalau mandi air hangat. Tak lama, ketel berbunyi nyaring tanda air sudah mendidih.

"Sarapannya sudah kan. Ayo mandi.", ajak saya.

"Tapi ndak keramas ya, Buk.", pintanya, setengah memaksa.

"Yawes. Kalau begitu keramasnya pas mandi sore saja bagaimana?", saya menawarkan solusi kepadanya.

"Iya.", jawabnya pendek.

Selesai mandi, saya membantunya memakai baju dan menyiapkan perlengkapannya ke sekolah. Beres berpakaian, dia lari ke depan rumah, menyusul adiknya yang sedang disuapi oleh uti. Saya memesan GoJek sambil bersiap berangkat juga.

Sekitar sepuluh menit kemudian, GoJek datang. Setelah berpamitan dengan uti dan adiknya, saya menaikkannya ke sepeda motor lalu ikut naik mengantarnya.

"Da daaa Thariq.. Assalamu'alaikum..", Zizi pamit sambil setengah berteriak.

Alhamdulillah, awal hari berjalan mulus tanpa drama. Semoga formula hari ini bisa diterapkan untuk esok hari. 😊

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#institutibuprofesional

Komentar