Langsung ke konten utama

Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga

Siang kemarin, sepulang dari sekolah, Zizi asyik menunjukkan origami burung pada saya.

"Ibuk, lihat!", serunya riang.
"Wah, bagus sekali. Apa ini?", tak kalah antusias saya meresponnya, mencoba mengganti bahasa interogasi yang biasa saya lakukan.
"Ini burung. Yang ini anaknya, yang ini ibuknya.", jelasnya sambil bergantian menunjukkan origami yang ukurannya lebih kecil dan lebih besar.
"Hooo begitu. Dibuatkan ustadzah? Atau Mbak Zizi sendiri yang membuat?", saya bertanya lagi.
"Dibuatkan ustadzah.", jawabnya.
"Sudah bilang terima kasih ke ustadzah?", saya bertanya lagi.
"Sudah.", jawabnya.
"Sipp. Bagus. Yuk kita pulang", ajak saya.

Saya lupa bahwa pujian seharusnya dinyatakan dengan jelas. Jadi ndak cukup dengan menyatakan "bagus" saja, tetapi perlu diperjelas bagusnya dimana agar anak paham bahwa kita mengapresiasi perbuatannya tersebut. Oke, semoga lain kali saya ingat.

Sesampainya di rumah, setelah makan siang, dia sibuk meminta tolong pada mbahkung untuk membantunya memasang origami tersebut pada benang, untuk kemudian diletakkan di kamarnya. Setelah berhasil, dia lalu bermaksud untuk menunjukkannya kepada uti dan saya. Saat itu, utinya ada di dapur, sedangkan saya sedang mengganti popok adiknya. Sambil mengganti popok adik, saya berseru, "Wah, lihat. Dek Thariq dihinggapi oleh banyak lalat."

Antara tergesa ingin segera melihat adiknya dan ngantuk yang mulai terasa, tangan kiri Zizi secara tidak sengaja terjepit pintu dapur ketika dia menutupnya. Tangis kesakitan pun pecah dari mulutnya. Saya, yang saat itu masih berkutat dengan adiknya, tidak bisa serta merta menolongnya. Utinya pun turun tangan, menggendong dan menenangkannya.

Setelah Zizi agak tenang dan saya selesai mengganti popok adiknya, saya mendekatinya. Saya perhatikan tangannya dengan seksama. Terlihat ibu jarinya sedikit bengkak dan memerah. Saya tawarkan padanya untuk mengompres ibu jarinya dengan es, tetapi dia menolak. Sambil menemaninya makan es krim, saya memohon ijin untuk melihat ibu jarinya lebih dekat sekaligus meniupnya.

Sambil saya terus meniup ibu jari tersebut, saya katakan, "Ini bengkak. Sakit yaa, Mbak Zizi?", dengan nada prihatin tanda empati. Dia membalas dengan anggukan. "Bismillah, sembuhkan jarinya Mbak Zizi, Yaa Allah. Aamiin.", lanjut saya mengajaknya berdoa. "Habis maem es krim, kita tidur siang yaa.", ajak saya yang lagi-lagi dibalas dengan anggukan tanda setuju.

Di kamar, sebelum tertidur, saya mencoba merefleksikan apa yang terjadi padanya hari ini.

"Jarinya masih sakit?", tanya saya.
"Iya.", jawabnya.
Saya melanjutkan, "Nggak enak ya kejepit pintu. Jadi lain kali harus bagaimana supaya nggak kejepit lagi? Harus hati-ha.."
"..ti..", lanjutnya.
"Iya, harus hati-hati. Kalau merasa ngantuk juga harus segera bo..bok.", lanjut saya lagi.
"Yawes sekarang bobok yaa. Bismikallahumma ahya wa amut. Aamiin.", dengan tenang saya mengajaknya berdoa.

Beberapa menit kemudian, Zizi pun terlelap dalam tidurnya.

Dahulu, sebelum mengetahui bagaimana kaidah-kaidah komunikasi produktif, saya beberapa kali malah memarahi Zizi kalau dia jatuh, terpeleset, atau terjepit. Sekarang saya ibaratkan ini seperti peribahasa "sudah jatuh, tertimpa tangga". Sudah merasakan sakit fisik akibat jatuh atau terpeleset, ehh malah ketambahan sakit hati karena dimarahi. Padahal, siapa juga yang mau jatuh atau terpeleset, kan?! Hehehe. Yahh, mohon doanya yaa semoga kewarasan saya ini bisa bertahan dan bahkan meningkat lagi. Hehehe.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komentar