Matahari sudah menyapa Bumi ketika saya membangunkan Zizi. Seperti biasa, usai mengucap salam dan menciumnya, saya mengangkatnya ke tempat tidur di dekat televisi. Meskipun masih terpejam, senyum menyungging di bibirnya ketika ia saya letakkan. Sambil menggeliat, ia pun menanyakan keberadaan adiknya. Ahh, alhamdulillah, saya mengucap syukur atas keingintahuannya pada adiknya. Saya menjawab bahwa adiknya sedang digendong oleh mbahkungnya, sembari dalam hati berdoa semoga Allah menguatkan bonding antara kakak beradik ini.
Sebelum membangunkannya, saya telah memasak air untuknya mandi di ketel berpeluit. Tak menunggu lama, usai dia bangun sambil mengucek mata, ketel berbunyi tanda air telah matang. Tanpa meminta pendapatnya, saya segera membantunya melepas pakaian dan menggiringnya ke kamar mandi.
"Yuk, coba mbak Zizi belajar pake sabun sendiri," ujar saya dengan intonasi ramah.
"Oke"
"Zizi yang bagian depan, ibuk membantu di bagian belakang. Boleh?"
"Boleh"
Kami berdua pun sibuk menggosokkan busa sabun dengan riang.
"Iyak, perut, dada, tangan, dan perut. Jangan lupa ketiaknya, ya," lagi-lagi saya memberikan instruksi kepadanya dengan penuh semangat.
Setelah busa sabun sudah merata di bagian tubuhnya, saya menyuruhnya untuk mengguyurkan air di badannya. Yes, sukses. Lagi-lagi lalu saya meminta ijin untuk membantunya membilas bagian belakangnya. Selesai mandi, saya memberikan sikat gigi berpasta gigi kepadanya sambil berkata, "Ini. Gosok gigi dulu. Yang bersih ya." Tak lupa, saya mengisi gelas kumur dengan air. Beberapa saat kemudian, dia berteriak, "Buk, sudah," tanda bahwa dia telah usai di kamar mandi. Saya segera mengambil handuk untuknya. Sambil menyelimutinya, saya berkata, "Alhamdulillah, hari ini Mbak Zizi sudah belajar mandi sendiri. Besok kita belajar lagi ya."
"Iya, Buk," iya tersenyum senang. Ahh, senyumnya ini lo yang menjadikan awalan hari jadi lebih ringan. Hehehe.
Setelah membantunya berpakaian, saya mengajaknya sarapan. Saya menyiapkan mangkuk, sendok, sereal, dan susu di atas meja makan. Sambil menuang sereal, saya berkata, "Tadi Mbak Zizi sudah belajar mandi sendiri. Bagaimana kalau belajar makan sendiri juga? Mau?"
"Mau."
Lalu, dia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Selesai satu suapan, ia pergi mendekati televisi yang menayangkan salah satu kartun favoritnya, Ipin dan Upin.
"Mundur atau dimatikan (tv-nya), Mbak Zizi?"
Zizi mundur, lalu kembali ke meja makan untuk menyuapkan makanan kembali. Duduk kira-kira sepuluh menit sambil mengunyah makanannya, Zizi kemudian beranjak lagi mendekati televisi. Adegan pun kembali ke saya yang kemudian mengingatkan Zizi untuk duduk, kadang dengan intonasi ramah, kadang dengan intonasi setengah memaksa. Hahaha. Begitu terus sampai hampir satu jam.
"Alhamdulillah," saya berucap syukur ketika melihat mangkuk sarapannya habis. Zizi pun tersenyum.
"Hari ini Mbak Zizi sudah berhasil makan sendiri ya. Mbak Zizi hebat karena sudah mau mencoba. Besok kita belajar lagi ya, Nduk."
"Iya," Zizi menjawab sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian Buk Nur, ibu-ibu yang mengantar jemput Zizi ke sekolah, datang. Saya segera mengambilkan jaket dan helm Zizi, kemudian membantu memakaikannya.
"Hati-hati ya," saya mengantarkan dia gerbang.
"Assalamu'alaikum," dia berpamitan.
"Wa'alaikumussalam," jawab saya sambil melihat sepeda motor Buk Nur yang melaju menjauhi rumah.
#Hari1
#GameLevel2
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Komentar
Posting Komentar