Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anaknya mandiri? Kalau saya sih bahagia banget. Hehehe. Bukan, bukannya merasa repot dengan kehadiran dan rengekan mereka, tetapi salah satu tujuannya adalah, suka tidak suka, untuk mempersiapkan anak-anak agar dapat terus melanjutkan hidup jika orang tuanya tidak bisa mendampinginya lagi.
Qadarullah, dalam dunia ini ndak ada yang instan. Untuk membuat mie instan pun ada prosesnya. Mulai dari menakar air, merebus, memasukkan mie, hingga mencampur mie dan bumbunya agar diperoleh sajian yang menggugah selera. Hmmmm, jadi laper. 😂
Back to topic, seperti juga membuat mie instan, ada proses berkesinambungan yang perlu dilakukan untuk melatih kemandirian anak. Pada saat prosesnya pun diperlukan kesabaran yang cukup banyak bagi orang tuanya. Sabar ketika proses latihannya belum memberikan kemajuan. Sabar untuk menikmati ritme anak yang, mungkin, bagi orang tua terasa lambat. Sabar untuk tidak membantu anak. Dan sabar untuk terus menyemangati anak dalam proses melatih kemandiriannya. Melalui game level 2 ini, saya juga jadi semakin memahami mengapa di game level 1 dulu kami belajar tentang komunikasi produktif, karena latihan kemandirian akan semakin lebih nyaman dilakukan ketika komunikasi antara orang tua dan anak berjalan dengan baik serta bahasa cinta anak sudah teraba oleh orang tuanya.
Apakah Zizi berhasil mandiri? Yahh, proses belajar terus berlanjut, sih. Beberapa tugas kemandirian sudah menunjukkan kemajuan yang pesat, seperti misalnya pipis di kamar mandi, yang semula belum bisa mensucikan diri sendiri, sekarang sudah bisa. Tetapi ada pula yang jalan di tempat, makan sendiri misalnya.
Yang jelas, tantangan di kelas Bunda Sayang ini boleh berakhir, tetapi latihan kemandirian ini insyaaAllah akan tetap dilakukan oleh Zizi. Mohon doanya yaaa.. 😉
#AliranRasa
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Komentar
Posting Komentar