Langsung ke konten utama

Cerita tentang Pasar Borobudur dan Kehabisan LPG

Assalamu'alaikum, haii..

Masih di edisi Manokwari. Kemarin, saya diantar suami pergi ke salah satu pasar tradisional di sini. Namanya Pasar Borobudur. Nah lo, namanya kok pake nama salah satu candi di Jawa yaa. Sayangnya, saya belum dapat info lebih lanjut tentang latar belakang penamaannya. Ya udah lah, nanti kalau sudah dapat infonya, insyaaAllah akan diperbaharui blog nya. Hehe. 

Back to topic, jadi Pasar Borobudur ini terletak di pinggir jalan raya. Penjualnya ya masyarakat asli Papua. Yang dijual ada sayur mayur, empon-empon, ikan segar, dan lain-lain. Nah yang unik, di sini nggak ada timbangan lo, temans. Barang dagangannya ditaro di semacam mangkok-mangkok plastik kecil. Pun, ndak ada tawar menawar di sini. Kalo meminjam istilah pak suami, "Gelem tukuen, ga gelem tinggalen." Hehe. Lalu, keunikan yang ketiga, harga barang dagangannya kelipatan lima ribu rupiah. Jadi ya lima ribu rupiah, sepuluh ribu rupiah, dua puluh ribu rupiah, dst. Dengan sistem ini, belanja jadi lebih cepat.

Itu tuh bawang merah, bawang putih, dll nya ditaroh di mangkok plastik kecil. Pembeli tinggal milih yang mana terus penjualnya akan membungkusnya di plastik. #ntms, lain kali bawa kantong belanja sendiri


Trusss kemarin beli apa ajaa? Nggak banyak kok, hanya ini :

1. Bawang merah 10rb
2. Bawang putih 10rb
3. Cabe rawit 10rb
4. Tomat 5rb
5. Kunir 5rb
6. Wortel 10rb
7. Kentang 10rb
8. Daun bawang 5rb
9. Laos 5rb
10. Klentang 5rb
11. Jeruk sambel 5rb

Iyaa, girang dan bahagia banget nemu klentang di sini. Temans tau nggak klentang itu apa? Itu tuh, buahnya pohon kelor. Sedapp disayur bening. Kemarin sempat lihat daun kelornya juga dijual. Bisa jadi alternatif nyayur lain kali. Hehe.

Nah trus, mana nih mana hasil masakannya? Ehmm,, anuuu,, ceritanya panjang.. Hehehe

Jadi ceritanya, pagi tadi saya bersemangat '45 menanak beras. Beras sedang dimasak, saya mulai mengiris bawang putih buat bumbu celupannya tempe goreng. Tempe  goreng ini semacam menu wajib bagi pak suami. Tempe sudah dipotong, dicelup ke bumbu, tinggal digoreng, eee la kok kompor ndak bisa nyala. Ha ha ha.. Hujan deras di luar, yang mana berarti ndak bisa beli LPG ato sekedar ke warung beli lauk matang. Ha ha ha lagi.. Perut sudah melilit meminta haknya, lalu saya kepikiran beli batagor aja di tetangga sebelah. Eh ternyata pak suami punya ide buat merebus telur di heater. Oke lah cap cusss beliau memasukkan tiga telur ke dalam heater.

Saya : "Yawes, (endoge) dimaem ambek bumbu pecel lak enak." (Ya sudah, (telurnya) dimakan pake bumbu pecel kan enak juga)
Suami : "Sekalian ae nek ngono nggodog bayem ndek heater pisan maringene." (Kalau begitu sekalian saja merebus bayam setelah ini) *fyi, kemarin pak suami membeli bayam di supermarket, lima ribu rupiah seikat.

Jadii ya begitulah, alhamdulillah sarapan terhidang dengan layak. Kami pun makan dengan penuh syukur. Kemarin-kemarin pas pak suami mau beli heater itu saya agak kurang sreg. Tapi beliau meyakinkan bahwa heater-nya akan terpakai, paling enggak akan kepake buat menghangatkan air untuk  mandinya Thariq biar hemat LPG karena gimana-gimana LPG agak sedikit mahal dan susah didapat. Hari ini, saya begitu bersyukur atas keputusan beliau. Dan bersyukur atas sikap saya yang nggak ngeyel menolak. *pizzz  pak suami
Hehehe. Alhamdulillah.

Oia hampir lupa, bumbu pecelnya itu sponsor dari utinya Zizi. Big thanks to uti yang sudah setengah memaksa (baca : ngeyel) membekali saya dengan bumbu pecel dan beberapa bumbu instan yang beliau beli dari pasar. Saya sempat maju mundur membawanya. Tapi pak suami meyakinkan saya, "Nek ga oleh digowo ambek petugase yowes ditinggal ae dikekno wonge," begitu kurang lebih jawabannya ketika saya khawatir kalau beraneka bumbu tersebut tidak diperbolehkan ikut terbang. Hehe. Alhamdulillah, mereka lolos terbang. Wakakakk.

Begitulah yaa, orang tua akan selalu menjadi orang tua, bahkan ketika anaknya sudah menjadi orang tua. Pas pak suami berangkat pertama kali ke sini seorang diri pun, ibuk mertua saya setengah memaksa menawarkan kepada anaknya untuk membawa beras. Hehehe. Saking khawatirnya kepada sang anak. Tentu saja pak suami menolak dengan sopan.  Hmmm, mendadak meloow nih. Sehat-sehat  semua yaaa uti dan mbahkung di Malang maupun Sengon. :*

Oke deh, sudah larut malam di sini. InsyaaAllah berikutnya akan ada cerita menarik lagi tentang Manokwari. 

Thanks for reading, wassalamu'alaikum.. :)

Komentar

Posting Komentar