Langsung ke konten utama

Tut Tuuttt Gujes Gujess

Masih di rumah mertua. Salah satu hal yang saya suka dari rumah mertua ini adalah jaraknya yang relatif dekat dengan Stasiun Sengon. Dahulu stasiun ini berfungsi layaknya stasiun pada umumnya, penumpang kereta dapat naik dan turun melalui stasiun ini. Tetapi, seiring perkembangan jaman, stasiun ini sepi penumpang sehingga sekarang hanya berfungsi untuk persinggahan sementara jika ada kereta yang bersimpangan. Setiap kali berkunjung ke rumah mertua, Zizi selalu diajak ke stasiun ini, entah oleh ayahnya atau oleh mbahkungnya. Bagi anak kecil, melihat kereta api adalah suatu hiburan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan saat saya masih kecil. Hehe

Pagi ini, suami tiba-tiba mengajak saya untuk melihat kereta api. Saya pun langsung menyetujuinya. Suami segera browsing jadwal kereta api, sedangkan saya mempersiapkan anak-anak untuk pergi. Saat berpamitan, mbahkung berkata, "Lihat jalan tol juga ta?"

Oh iya, proyek jalan tol yang juga berada di dekat situ sudah jadi, namun belum beroperasi. Kapan lagi bisa melihat jalan tol saat sepi kendaraan, bukan?! Kami langsung mengiyakan anjuran bapak. Oke let's go! Ayah berperan sebagai pimpro merangkap sie transportasi dan sie dokumentasi, ibu berperan sebagai notulis, sedangkan Zizi dan Thariq berperan sebagai pelaksana.

Brumm, deru motor menderu membawa kami ke Stasiun Sengon. Tak lama, bangunan stasiun sudah terlihat. Ayah segera memarkir sepeda motornya. Lalu, ada petugas keamanan yang menyambut kami. Setelah mengetahui bahwa kami ingin melihat kereta, petugas tersebut mengatakan kepada kami untuk menunggu kereta di sisi seberang stasiun.

"Waw, banyak batunya," seru Zizi.

"Iya. Kalau yang ini namanya sepur. Sepur itu jalan kereta api," panjang lebar ayah menjelaskan.

"Kereta api itu terbuat dari apa ya, Zi?", saya bertanya.

"Dari plastik atau kayu atau besi?", ayahnya ikut memberikan pilihan.

"Dari besi lah," jawab Zizi

"Dari plastik paling, Zi," ayahnya menggoda.

"Bukan, dari besi," Zizi bersikukuh.

"Iya, dari besi, Ayah. Kalau yang menciptakan kereta siapa ya, Zi?"

"Allah"

"Bukan. Kereta diciptakan manusia, tetapi manusia menciptakan kereta atas ilmu dari Allah."

Tak lama kemudian, terdengar klakson kereta. Tut tuuuuuttt... Lokomotif kereta mulai nampak. Saya spontan menutupi telinga Thariq dengan telinga. Zizi pun demikian, sambil mendekat ke ayahnya, seperti berlindung. Hehehe.



Selama kereta api melintas, Zizi terus menutup telinganya. Memang deru mesinnya terdengar keras sekali. Zizi baru melepaskan tangannya dari kereta tatkala kereta tersebut tak nampak dari pandangan kami.

"Wah, masyaaAllah, panjang ya keretanya Zi," saya memulai pembicaraan kembali.

"Iya."

"Eh, tadi keretanya berwarna apa ya Zi?"

"Putih."

"Oia benar, putih."

"Lupa tadi ya ndak menghitung berapa jumlah gerbong keretanya."

"Ayok ke rumah mas Azka," Zizi mengajak kami kembali ke rumah mbahkung.

"Sebentar, kita lihat jalan tol dulu ya," jawab ayahnya sambil berjalan menuju tempat sepeda motor diparkirkan.

Perjalanan pun dilanjutkan. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan oleh pemandangan khas pedesaaan : hijaunya sawah, birunya gunung, serta sibuknya para ibu menyapu atau bercengkrama dengan tetangganya di depan rumah. Beberapa kali juga kami melewati sekolah dasar dengan beberapa penjual jajanan sekolah yang khas yang membuat saya bernostalgia akan kenangan masa kecil saya. Ahh, alhamdulillah, nikmat Allah mana lagi yang akan kami dustakan.

Setelah sekitar lima belas menit, proyek jalan tol yang kami tuju sudah terlihat. Medan perjalanan berubah dari aspal menjadi tanah berpasir padat karena kami mulai memasuki proyeknya. Terasa seperti rute off-road beberapa saat, lalu kembali menjadi jalan mulus tol yang terbuat dari beton.

Tak banyak yang kami lakukan di sini, hanya berfoto dan berlindung dari sengatan sinar matahari yang alhamdulillah cukup terik. Zizi lalu semakin intens mengajak kembali pulang karena merasa haus. Lalu, kami pun segera kembali ke rumah.

Sampai di rumah, Zizi duduk di sofa. Saya mengambilkan minum untuknya. Usai minum, saya mengambilkannya makan. Baru beberapa suapan, Zizi mengeluh perutnya sakit. Lalu, dia muntah. Saya dan suami pun kaget. Sembari saya membersihkan muntahannya, suami kembali menyodorkan segelas air minum.

"Perutku sudah ndak sakit lagi," kata Zizi.

"Alhamdulillah. Maem lagi ya, sedikit saja. Terus minum tolak angin. Mungkin Mbak Zizi masuk angin. Maaf tadi ibuk lupa tidak mengajak Mbak Zizi maem dulu sebelum lihat kereta."

Zizi mengangguk pelan.

Ayahnya kembali menyuapinya. Lalu tiba-tiba Zizi muntah kembali. Saya segera membersihkannya lalu mengambil air minum dan tolak angin.

"Nanti maem lagi ya. Sekarang minum ini," saya menyodorkan jamu yang biasa ia minum.

Usai meminumnya, saya menggiring Zizi ke kamarnya.

"Yuk, istirahat dulu ya. Allah memberikan Mbak Zizi sakit dan muntah agar Mbak Zizi istirahat. InsyaaAllah setelah istirahat nanti sembuh," saya berkata panjang lebar sambil mengoleskan minyak telon ke perut, punggung, dan telapan tangannya. Duh, saya menyesalkan kealpaan saya.

Karena Thariq lapar, ayah yang menemani Zizi tidur. Alhamdulillah dia dapat tidur dengan nyenyak. Setelah sekitar satu jam, Zizi bangun sedangkan ayahnya masih tidur hahahaha. Wajahnya terlihat lebih segar.

"Alhamdulillah, mbak Zizi sudah bangun," saya menyambutnya.

"Perutnya masih terasa sakit? Terasa mau muntah lagi?" saya bertanya sambil meraba dahinya. Alhamdulillah tidak demam, batin saya dalam hati.

"Endak, aku sudah sembuh," Zizi menjawab dengan mata berbinar.

"Alhamdulillah, terima kasih Allah, sudah menyembuhkan Mbak Zizi," saya mengajaknya bersyukur.

"Aku mau main sama mas Azka," Zizi berkata sambil beranjak menuju kamar sepupunya.

Fiuhhh.. Alhamdulillah.. Bersyukur sekali melihat keceriaannya kembali. Pelajaran untuk saya hari ini : jangan sekali-kali keluar rumah sebelum perut anak terisi. Hehehe..


#HariKe10
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam


P.s. Btw kayaknya ini postingan terpanjang selama ini. Heheheee 😅

Komentar