Langsung ke konten utama

Yuk, Kita Bikin Ecobricks

Assalamu'alaikum, hai...

Masih tentang cerita di Manokwari dan kali ini sekaligus untuk laporan game level 3 kuliah Bunda Sayang IIP. Di Manokwari, harga air mineral kemasan galon dan kemasan 600 ml sekardus hampir sama. Lantas dengan menimbang bahwa (1) kalau beli yang 600 ml sekardus, kami bisa memanfaatkan kardusnya untuk tempat pakaian, mainan, buku, dll dan (2) kalau beli yang 600 ml sekardus, ndak perlu repot jungkir balikin galon di dispenser ataupun memompa airnya untuk kemudian diminum; akhirnya kami memutuskan untuk membeli yang kemasan 600 ml. Konsekuensinya, banyakk sekali botol mineral di rumah kami. Kadang sudah saya kumpulkan rapi di satu tempat, lalu adek Thariq dengan tanpa bersalah mengambilnya lalu membawanya sambil berjalan ke sana dan kemari, hahahhaa.. Akibatnya, sejauh mata memandang, botol kemasan memenuhi rumah kami yang masih minim perabotan ini. Hehe. Konsekuensi lain, sampah yang dihasilkan rumah kami pun bertambah. Padahal kepinginnya #menujurumahnolsampah karena Bumi tempat kita tinggal ini hanya satu yang mana berarti kudu dirawat dan dijaga selalu. Baiklahh, botol kemasan ini haruss dimanfaatkan kembali. Begitu tekad saya.

Maka, saya pun memberitahu pak suami tentang niat saya membuat #ecobricks ini. Saya menanyakan padanya bagaimana cara membuat bekas botol air kemasan benar-benar kering tanpa air. Beliau pun menjawabnya bahwa botol dibiarkan di ruang terbuka tanpa tutup saja. Lalu, pembicaraan mengalir dengan lancar. Tak lupa saya menunjukkan bahwa #ecobricks nantinya bisa dimanfaatkan untuk membuat kursi dan meja.

https://goo.gl/images/5K2Zkd

Misi berhasil, pak suami pun mendukung apa yang akan saya lakukan. Beliau bahkan bertanya hal-hal teknis seperti misalnya apa yang digunakan untuk membuat #ecobricks tersebut menempel, apa tidak terlalu pendek kursi yang dihasilkan dari botol kemasan 600ml tersebut, dll.

Setelah pak suami oke, saya mulai mengumpulkan beraneka plastik yang bisa digunakan untuk mengisi botol-botol plastik tersebut. Karena kami masih suka membeli jajanan di luar, plastik kemasan terkumpul cukup banyak. Hehehe. Ketahuan nihh masih belum bisa move on dari plastik. Hehehe. Beberapa plastik kemasan tersebut lantas saya cuci dan keringkan.

Nah, tentunya tidak lengkap kalau Mbak Zizi tidak dilibatkan dalam rencana ini. Maka, kemarin saya mengajak Zizi untuk memotong-motong plastik label botol kemasan sambil saya ceritakan tentang #ecobricks ini.

Saya : "Mbak Zizi, yuk kita potong-potong plastik." (Sambil memyodorkan gunting dan plastik label kepadanya)
Zizi : "Ayookk."
Saya : "Ibuk potong memanjang dulu, nanti Mbak Zizi motong kecil-kecil ya."
Zizi : "Iya."
Saya : "Ini, potongnya kecil-kecil yaa. Seperti ini." (Saya memotong kecil-kecil memberikan contoh sambil memberikan plastik yang sudah saya potong memanjang)

Zizi pun asyik memotong-motong plastik. Saya sesekali mengingatkannya untuk berhati-hati dalam menggunting.

Saya : "Zi, ini plastiknya mau dibikin ecobricks."
Zizi : "Ecobricks? Apa itu?"
Saya : "Ecobricks itu bata yang terbuat dari plastik." (Saya menjawab sekenanya) "Nanti plastik kecil-kecil ini dimasukkan ke botol plastik itu." (Saya menjelaskan lagi sambil menunjuk ke arah botol bekas air kemasan yang berserakan)
Zizi : "Oh, begitu ya, Buk."

Selanjutnya, Zizi asyik menggunting dan saya pamit padanya untuk menjemur pakaian. Tak lama kemudian, dia mulai tak sabar. Alih-alih menggunting sesuai instruksi, dia menggunting dengan ukuran yang lebih besar.

Zizi : "Yang kecil-kecil ini nasinya. Yang besar-besar ini nugget-nya. Ndak apa-apa ya, Buk, besar-besar"
Saya : "Oo begitu ya. Yawes ndak apa-apa. Yang penting hati-hati saat menggunting."

Beberapa saat kemudian.
Zizi : "Buk, sudah. Aku capek."
Saya : "Yawes, sini guntingnya dibereskan dulu. Terima kasih ya, sudah membantu ibu."

Lalu, dia pun mengajak saya berpura-pura bermain sebagai Rainbow Ruby. Dia yang menjadi Ruby-nya tentu saja. Potongan-potongan plastik tadi ditaruh di piring plastik. Lalu, dia memasukkannya ke dalam lemari kecil. Dia bercerita kalau lemari kecil itu adalah oven. Tak lama kemudian, dia membuka "oven"-nya dan menyajikan "hasil makanan"-nya ke saya. Hari ini kita bermain peran lagi ya, Nduk. :)



#HariKe1
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Thanks for reading, wassalamu'alaikum.. ^^

Komentar

Posting Komentar