Assalamu'alaikum, hai..
Persediaan telur habis. Begitupun tempe, lauk wajib di rumah kami. Maka, pagi-pagi pun saya sudah keluar komplek untuk menghentikan tukang sayur keliling. Lama saya berdiri di pinggir jalan, tak satupun penjual lewat. Apa mungkin di sini para penjual sayur keliling libur di hari Ahad ya? Hmm, penting untuk ditanyakan kepada pak penjual langganan besok. Hehe.
Karena tidak ada lauk sama sekali, saya pun mengajak suami untuk membeli telur di toko dekat rumah. Ternyata, pak suami punya ide lain. Komplek kami berdekatan dengan salah satu warung yang menyajikan aneka menu ayam cepat saji. Berhubung tidak ada lauk dan kami belum pernah beli di warung tersebut, maka suami berpikir bahwa inilah saat yang tepat untuk mencoba. Thariq sedang tidur sehingga yang pergi membeli ayam adalah saya dan Zizi.
Tiba di warung, Zizi senang sekali karena rupanya ada area bermain anak. Area ini bahkan lebih luas daripada di KFC. Beralaskan plastik empuk warna kuning dan merah, ada dua permainan di sana. Ada ayunan dan perosotan untuk anak di bawah usia 2 tahun. Lalu ada rumah-rumahan serta perosotan untuk anak yang lebih besar. Di aturannya tertulis bahwa anak-anak yang masuk harus mengenakan kaos kaki. Sayangnya, Zizi tidak mengenakan kaos kaki saat itu. Tetapi karena petugas tidak melarang, akhirnya dia tetap memasuki area tersebut. Sementara saya memesan ayam, Zizi pun asyik berseluncur di perosotan.
Usai memesan, saya mencari kursi kosong dekat dengan area bermain anak. Qadarullah saya tidak membawa hp sehingga saya menghabiskan waktu dengan mengawasi Zizi bermain. Senang sekali Zizi di situ. Dia ingin naik ayunan juga, tetapi setelah saya beritahu bahwa itu untuk anak yang berusia 2 tahun ke bawah, dia mau mengerti. Malah, dia jadi teringat adiknya yang tengah tidur di rumah. Alhamdulillah..
Qadarullah, proses penyiapan pesanan saya memakan waktu yang cukup lama. Zizi pun keluar area bermain kemudian bertanya kepada saya.
Zizi : Buk, sudahkah?
Ibu : Belum. Kenapa? Mau pulang kah? Mainnya sudah?
Zizi : Hehe, endak. Aku masih mau main.
Ibu : Zizi senang?
Zizi : Iya. Besok kita ajak Thariq ya, Buk. Nanti Thariq di ayunan, aku yang dorong.
Ibu: Alhamdulillah kalau Zizi senang. Ini semua rejeki dariii..
Zizi : Allah..
Ibu : Betul, dari Allah. Tapi ndak tiap hari juga, Zi. Nabung dulu lah. Zizi juga harus berdoa sama Allah. Supaya dikasi rejeki buat ke sini lagi.
Zizi : Iya.
Ibu : Misalnya, uangnya ada, eee ternyata warungnya tutup. Itu berarti bukan rejekinya Zizi. Iya, kan?
Zizi : Iya.
Ibu : Atau, kayak adik Thariq itu. Uangnya ada, warungnya buka, tetapi adik Thariqnya bobok sehingga dia nggak bisa ikut ke sini. Brarti itu namanya bukan rejekinya Thariq. Gitu lo, Nak..
Zizi : Iya
Ibu : Berarti, rejeki bukan cuma uang aja ya Zi. Rejeki juga bisa berupa warungnya yang buka, atau Zizi yang nggak tidur, atau bisa juga kesehatan. Coba Zizi sakit. Mana bisa ke sini kitanya?
Zizi : Bisalahhh
Ibu: La kalau Zizi lemesss, maunya bobok terus?
Zizi : Ooo iya ya..
Ibu : Iya, jadi kita harus bersyukur kepada Allah. Alhamdulillah hari ini Allah kasi rejeki buat Zizi untuk ke sini.
Zizi tersenyum. Dalam hati saya berdoa, semoga sedikit obrolan saya dengannya sampai ke hatinya. Tak lama, pesanan kami datang. Kamipun segera pulang untuk makan bersama ayah dan Thariq.
#Harike4
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
Thanks for reading, wassalamu'alaikum..^^
Komentar
Posting Komentar